Senin, 17 April 2017

Mental Dental Entrepreneur Diperlukan Untuk Bersaing di Zaman Penuh Tantangan







Rabu (3/2) program pelatihan bertajuk Revolusi Mental Dental Entrepreneurship digelar oleh Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR. Tiga narasumber berbagi pengalaman dan pandangan terkait pentingnya revolusi dan transformasi mental. Mereka adalah Dekan FKG Dr. R. Darmawan Setijanto, drg, M. Kes, Ir. Misbahul Huda, MBA, dan Didik Madani, S. Sos., M.Med.Kom. Tantangan di masa depan pasti lebih beragam, maka itu perlu kreatifitas dalam menyongsong era baru tersebut.

Darmawan berbicara tentang Best Practicess for Dental Entrepreneur. Dia mengutarakan, para dokter gigi tidak cukup hanya buka praktek di garasi atau klinik. Perlu kreatifitas untuk membuat usaha menjadi lebih luas dan berjaringan kuat. Kemampuan membaca peluang merupakan sebuah keniscayaan. Harus ada perubahan perspektif. Dengan demikian, wawasan akan lebih luas.

Seseorang harus bertanya pada diri sendiri, apakah yang dilakukan selama ini bermanfaat atau tidak. Kalau sudah bermanfaat, harus bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia. Yang terpenting, jangan pernah membatasi diri. Sebab, manusia tercipta unlimited. Jangan ada mental-block. semua orang memiliki potensi yang tak terbatas dan bisa dikembangkan. Sadar Revolusi Mental sejak dini.
 

Pintar Mengelola Keuangan Dengan Revolusi Mental





Istilah revolusi mental tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Istilah ini dipopulerkan Presiden Joko Widodo saat berkampanye sebagai calon presiden. Lalu, bagaimana kaitannya revolusi mental dengan keuangan? Apakah memang ada revolusi mental keuangan? Hampir semua orang ingin kehidupan finansialnya berkecukupan. Ingin asetnya banyak. Ingin uangnya berlimpah. Namun, tidak semua orang mampu mencapai semua itu. Yang ada hanya sebatas keinginan. Ada yang ”bermasalah” ketika hendak mengeksekusi keinginan tersebut.

Revolusi mental keuangan adalah mengubah paradigma bahwa kekayaan bisa diraih hanya dengan mengumpulkan pendapatan. Artinya, jika Anda bekerja dan memperoleh gaji dan kemudian gaji itu disisihkan untuk ditabung, pada suatu ketika aset Anda akan bertambah. Itu benar. Namun, tidak sepenuhnya benar. Kenapa? Karena dana yang disisihkan dan kemudian ditabung tidak termasuk dalam kategori produktif. Bunga tabungan bank yang Anda terima tidak lebih besar dari laju inflasi atau malah bisa lebih rendah. Dengan kata lain, akumulasi uang yang Anda miliki tidak akan memiliki daya beli sebesar sekarang.

Namun, ada yang sudah ”bermasalah” sejak ketika masih memiliki keinginan. Dan di sinilah seharusnya revolusi mental keuangan dimulai. Sejatinya harus ada ”pengelolaan keinginan”. Artinya, keinginan bukan harus semuanya dipenuhi, tetapi diseleksi lebih dahulu mana yang berkategori sebagai kebutuhan dan mana pula yang tergolong keinginan.

Oleh karena itu, jika Anda ingin mendapatkan aset besar di kemudian hari, salah satu caranya adalah dengan membuat uang Anda produktif dan bertumbuh melebihi laju inflasi. Itulah yang disebut dengan investasi. Jadi, revolusi mental keuangan prinsipnya adalah mengubah paradigma tentang keuangan, yang dimulai dari tata kelola keinginan dan juga cara mencapai tujuan keuangan itu sendiri.

Peningkatan Produktivitas PNS Ditargetkan Melakukan Revolusi Mental





Bima Haria Wibisana sebagai Ketua Badan Kepegawaian Nasional, mengatakan akan melakukan efisiensi belanja Pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu dengan peningkatan implementasi revolusi mental. "Tahun 2016 ini pemerintah targetkan 70 persen PNS bisa mengalami revolusi mental. 70 persen itu bisa tiga juta lebih," kata Bima dalam konferensi pers di hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (26/5/2016). "Kami lakukan ini secepatnya karena ini merupakan tantangan dan juga landasan bagi perubahan lain," ujarnya.

Integritas, etos kerja, dan gotong royong adalah tiga indikator revolusi mental yang ingin dicapai. Untuk mencapai tiga indikator tersebut, BKN akan melakukan diklat, sosialisasi, dan mengundang Pendiri ESQ Leadership Center Ari Ganjar Agustian. Dengan begitu diharapkan PNS memiliki tiga indikator revolusi mental dapat meningkatkan produktivitas pelayanan publik menjadi lebih baik dan lebih cepat.

Menurut Ketua Badan Kepegawaian Nasional, peningkatan produktivitas akan memperkecil rasio belanja pegawai. Bima menyadari tidak semua PNS memiliki produktivitas yang baik.  Agar rasio belanja pegawai menjadi lebih kecil, maka kemampuan daerah, provinsi, kabupaten harus menghasilkan hal-hal yang produktif yang lebih besar. 
 
Jika tidak memiliki tiga indikator revolusi mental maka akan dilakukan pengurangan PNS dengan mencabut surat kerja PNS, kata Bima.