Selasa, 20 September 2016

Selain Menyalurkan Gas Bumi Untuk Transportasi, PGN Bagikan 143 Hewan Kurban di Medan




PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) hari ini menyerahkan sebanyak 143 hewan kurban ke 70 lokasi yang terbesar di wilayah Medan, Sumatera Utara. "Pembagian hewan kurban ini sebagai bentuk kepedulian PGN kepada masyarakat di daerah sekitar wilayah oprasi," ujar Saeful Hadi sebagai Sales Area Head PGN Medan, Sabtu (10/9/2016). Hewan kurban yang diserahkan terdiri dari 11 ekor sapi dan 132 ekor kambing. Selain di Medan, PGN juga menyerahkan hewan kurban di berbagai wilayah lainnya terutama di wilayah-wilayah tempat jaringan gas bumi PGN berada.

Seperti diketahui, untuk wilayah Medan, PGN telah memasok gas bumi ke 20.085 pelanggan, yang terdiri dari 45 industri besar, 436 usaha kecil menengah, 61 usaha komersial seperti cafe dan restoran serta hotel, dan 19.543 rumah tangga. Selama ini, penyaluran gas bumi di Medan berjalan secara baik dan lancar. Pelanggan yang menggunakan gas bumi PGN merasakan penghematan yang cukup signifikan, mudah dalam penggunaanya dan aman.

Selain di Medan, PGN juga telah menyalurkan gas bumi ke berbagai wilayah di Indonesia. Seperti di Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, sampai Papua. Secara nasional gas bumi PGN saat ini mengalir ke lebih dari 116.600 pelanggan rumah tangga. Selain itu, PGN juga mengalir ke 1.900 usaha kecil, mal, hotel, rumah sakit, restoran, hingga rumah makan, serta 1.580 industri berskala besar dan pembangkit listrik.

PGN juga menyalurkan gas bumi untuk transportasi, saat ini PGN telah mengoperasikan 7 Statiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), mensuplai gas untuk 8 SPBG mitra, dan mengoperasikan 5 Mobile Refueling Unit (MRU). Seperti diketahui, infrastruktur pipa gas bumi yang dibangun dan dioperasikan PGN hingga saat ini mencapai lebih dari 7.200 km. Jumlah tersebut setara dengan 76 persen total pipa gas hilir, yang ada di seluruh Indonesia.

“Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Sumber :


Energi Alternatif Solusi Mengolah Limbah Sekitar



Masyarakat belum menyadari bahwa kotoran manusia dapat menghasilkan energi alternatif yang terbaru berupa biogas. Kotoran manusia atau human excreta menjadi salah satu alternatif yang masih belum dilirik masyarakat, untuk dijadikan bahan baku pupuk organik yang berkualitas. Menurut Direktur Pusat Studi Lingkungan Universitas Surabaya, Yunus Fransiscus, “keberadaan limbah maupun sampah rumah tangga harus dapat dipahami oleh masyarakat sebagai sumber daya yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomi, sekaligus energi alternatif.” Sudah saat nya masyarakat memanfaatkan limbah domestiknya menjadi seuatu yang bernilai ekonomis.

Sampah tidak selalu memiliki arti negatif. Tetapi sampah bisa menjadi energi alternatif. Kesulitan petani mendapatkan pupuk akibat kelangkaan maupun tingginya harga pupuk di pasaran, seringkali menyebabkan petani memilih beralih profesi dari bidang agraris ke perdagangan. Padahal dengan potensi sumber daya alam serta wilayah geografis yang sangat luas, Indonesia telah terbukti pernah menjadi negara swasembada pangan.

Perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat menjadi tujuan utama, memanfaatkan sampah yang dihasilkan menjadi sesuatu yang lebih bernilai manfaat. “Idenya adalah menstimulasi masyarakat dan dunia usaha untuk mulai berpikir apa yang bisa dipakai dari sampah,” ujar Yunus yang menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari konsep Ekonomi Biru. Dia mengilustrasikan kotoran dari 3,5 juta penduduk Surabaya bisa menjadi dikumpulkan menjadi bank pupuk organik dan biogas.

“Indonesia itu negara agraris, kita sangat perlu pupuk untuk mensuplai para petani,” terangnya. “Bagaimana yang namanya kotoran atau human excreta, atau kotoran dari manusia itu bisa kita pakai sebagai fertilizer dan sebagai biogas juga, jadi bisa dipakai untuk pupuk dan bisa dipakai untuk biogas. Edukasi dan sosialisasi untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah maupun limbah manusia, merupakan kunci untuk melakukan perubahan yang lebih positif terhadap lingkungan maupun ekonomi masyarakat.

Dari hasil uji coba 10kg kotoran yang terkumpul dalam kondisi relatif murni, akan dapat dihasilkan sekitar 4-6 kg pupuk atau sekitar 40 persen dari volume awal. “Ada beberapa tahapan yang dilakukan, pertama pengumpulan, pengubahan atau pengalihan material kotoran menjadi bahan berguna, kemudian aplikasi penerapan dari hasil itu ke lahan pertanian,” lanjut Yunus yang mengaku tidak membutuhkan material tambahan untuk mengubah tinja menjadi pupuk organik.

Pada setiap toilet di Ubaya Training Center, Trawas, Mojokerto, Jatim, sudah dipasang pemisah feses dengan urin, yang masing-masing dapat digunakan untuk pupuk. “Kadangkala kita tidak perlu melibatkan teknologi baru tetapi paradigma yang baru, itu yang penting untuk dimajukan. Idenya adalah menstimulasi teman-teman untuk mulai berpikir apa yang bisa kita pakai dari sampah, jadi sampah tidak selalu memiliki arti negatif tetapi memiliki arti positif juga,” tambahnya. Kunjungan peserta Kongres Blue Economy di Ubaya Training Center, Mojokerto, bertujuan melihat Pusat Pendidikan Olah Sampah milik Universitas Surabaya, yang telah mampu mengolah sampah organik dan kotoran manusia menjadi pupuk. Hal ini merupakan contoh konkrit penerapan konsep ekonomi biru, dimana kegiatan perekonomian dapat disinergikan dengan aspek lingkungan.

Youko Tomizuka, peserta Kongres Blue Economy asal Jepang mengapresiasi upaya yang telah dilakukan untuk mengubah sampah menjadi barang yang lebih bernilai ekonomi. Dirinya berharap model seperti ini dapat diterapkan oleh masyarakat di negara-negara lain. “Ini adalah inisiatif dari akademisi di lembaga pendidikan.  Dan yang kedua adalah, mereka melakukan perubahan terhadap alam, dan saya pikir kegiatan ini bisa disampaikan kepada masyarakat.

Orang-orang mungkin menyadari bahwa mereka membuang limbah dan kurang menghargai alam, dan selanjutnya mereka berharap tidak lagi menciptakan sampah, dengan mengurangi sampah, mengurangi penggunaan yang dapat menimbulkan sampah, serta mendaur ulang segalanya. Pikiran orang harus diajak untuk mau berubah, ini yang ingin ditunjukkan,” katanya. Pembuangan kotoran atau tinja manusia melalui pipa yang disalurkan langsung ke tempat pemampungan khusus yang telah dibuat sebelumnya.

Sedangkan urine yang dibuang disalurkan ke tempat penampungan lain yang berbeda dengan tinja. Yunus mengatakan bahwa kotoran manusia yang tidak banyak tercampur dengan air akan lebih bagus kualitasnya untuk dijadikan bahan pupuk organik. “Proyek percontohan yang saya buat di Lumajang, pada salah satu keluarga petani disana, mereka berhasil memisahkan dua material yaitu tinja dan urine. Hasilnya pupuk organik yang dihasilkan sangat bagus dan hasil pertaniannya juga lebih bagus,” terangnya.

“Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Sumber :



PGN Bangun Pipa Gas Bumi Sepanjang 1.680 KM



Setelah berhasil menyelesaikan pembangunan infrastruktur pipa gas bumi di Pasuruan, Mojokerto dan Sidoarjo, di semester I tahun 2016, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) terus memperluas insfrastruktur gas nasional dengan menargetkan penambahan panjang pipa gas bumi sepanjang 1.680 kilometer (km) mulai 2016 sampai dengan 2019 untuk memberikan gas ke daerah lainnya di nusantara.

Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusuf mengatakan, PGN merupakan perusahaan yang beroperasi lebih dari 76 persen dari jaringan pipa gas bumi hilir di indonesia, infrastruktur pipa gas bumi yang akan dibangun sepanjang 1.680 km tersebut di antaranya adalah proyek pipa transmisi open acces Duri – Dumai – Medan.

Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengungkapkan, penambahan infrastruktur pipa yang diantaranya akan bersifat open acces ini dilakukan dalam rangka mendukung dan menggenjot angka penggunaan gas bumi menyusul program konversi bahan bahar minyak (BBM) yang dicanangkan pemerintah.

“Saat ini pipa gas bumi yang kami bangun dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan APBN mencapai lebih 7.100 km, dan pipa gas bumi tambahan lebih dari 1.680 km akan dibangun menggunakan investasi interla PGN tanpa bergantung pada anggaran negara.” Kata Heri, di Jakarta Rabu (24/08/2016). Menambahkan bahwa pada tahun 2019 perusahaan akan beroperasi total 8.706 km jaringan pipa gas bumi nasional.

“Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi


Sumber :


http://bisnis.liputan6.com/read/2584861/pipa-pgn-capai-8656-km-pada-2019

Jumat, 20 Mei 2016

PGN Bangun Jaringan Gas (Jargas) di Tarakan, Kalimantan Utara



PGN mendapat tugas dari  pemerintah untuk membangun jaringan gas (Jargas) rumah tangga ke 21.000 sambungan rumah di Tarakan, Kalimantan Utara. Direktur PGN, Dilo Seno Widadgo menyatakan bahwa sambungan gas rumah tangga sebanyak 21.000 rumah di Tarakan tersebut, meliputi 7 sektor di 6 kelurahan, yakni Kelurahan Kampung 1 Skip, Kelurahan Gunung Lingkas, Kelurahan Karang Anyar, Kelurahan Pamusian, dan Kelurahan Selumit.

Agar pembangunan jaringan gas rumah tangga berjalan lancar, dukungan dari masyarakat maupun pemerintah daerah sangat dibutuhkan oleh PGN. "Kami mengharapkan dukungan penuh dari semua pihak terutama masyarakat dan pemerintah daerah sehingga makin banyak masyarakat di Tarakan yang menikmati energi baik gas bumi yang efisien dan ramah lingkungan," tegas Dilo.

Pendanaan berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp 225 miliar, maka total akan ada sekitar 24.336 rumah tangga di Tarakan menikmati gas bumi. Di Tarakan sebanyak 3.366 rumah tangga yang memanfaatkan energi baik gas bumi dari PGN. Jaringan gas tersebut dibangun Kementerian ESDM pada 2010 dan kemudian pengelolaannya dipercayakan kepada PGN.

Selain di Tarakan, Pemerintah juga menugaskan PGN untuk membangun jaringan gas bumi di Surabaya sebanyak 24.000 sambungan gas rumah tangga dan di Batam sebanyak 4.000 sambungan. PGN sendiri mempunyai Program PGN Sayang Ibu untuk memperluas pemanfaatan energi baik gas bumi bagi rumah tangga.

Pelayanan PGN yang maksimal, menghasilkan pelanggan yang tersebar di berbagai wilayah mulai dari Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, sampai Papua.


“Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi

Sumber :